Secara umum, dibutuhkan modal kerja yang teratur dan permanen untuk menjalankan perusahaan. Oleh sebab itu, seorang pimpinan harus dapat menyediakan modal kerja yang cukup ketika aktivitas perusahaan meningkat dan sekaligus dapat mengatasi agar tidak terjadi kelebihan modal kerja dalam bentuk cash pada saat aktivitas perusahaan sedang menurun.

Drs. Bambang Riyanto menetapkan klasifikasi modal kerja sebagai berikut

  1. Modal Kerja Permanen (Permanent Working Capital) yang dapat dibedakan menjadi
  • Modal Kerja Primer (Primary Working Capital)
  • Modal Kerja Normal (Normal Working Capital)
  1. Modal Kerja Variabel (Variabel Working Capital yang dapat dibedakan menjadi
  • Modal Kerja Musiman (Seasonal Working Capital)
  • Modal Kerja Siklus (Cyclical Working Capital)
  • Modal Kerja Darurat (Emergency Working Capital)

Modal kerja permanen merupakan modal kerja yang harus tetap ada pada perusahaan agar dapat menjalankan fungsinya. Dengan kata lain, modal kerja permanen adalah modal kerja yang terus menerus diperlukan bagi kelancaran usaha.

Modal kerja primer (Primary Working Capital) adalah jumlah modal kerja minimum yang harus tersedia pada perusahaan untuk menjamin kontinuitas usaha atau operasinya. Modal kerja normal (Normal Working Capital) adalah jumlah modal kerja yang diperlukan untuk menyelenggarakan luas produksi yang normal.

Modal kerja variabel adalah modal kerja yang jumlahnya berubah-ubah karena keadaan darurat yang tidak diketahui sebelumnya.

Drs. Bambang Riyanto mengemukakan tiga konsep pengertian modal kerja, yaitu

  1. Konsep Kuantitatif

Konsep ini didasarkan atas kualitas dana yang ditanam dalam unsur-unsur aktiva lancar, yaitu aktiva yang dipakai sekali dan akan kembali menjadi bentuk semula, atau aktiva dengan dana tertanam di dalamnya yang akan bebas lagi dalam waktu singkat. Konsep ini sering disebut Gross Working Capital.

  1. Konsep Kualitatif

Konsep ini didasarkan pada aspek kualitatif, yaitu kelebihan aktiva lancar dari hutang lancarnya. Modal kerja menurut Konsep ini adalah sebagian dari aktiva lancar yang benar-benar digunakan untuk membiayai operasi perusahaan yang bersifat rutin tanpa mengganggu likuiditasnya. Konsep ini sering disebut sebagai Net Working Capital.

  1. Konsep Fungsional

Konsep ini didasarkan pada fungsi dana dalam menghasilkan pendapatan. Setiap dana yang digunakan dalam perusahaan dimaksudkan untuk menghasilkan pendapatan, dengan kalkulasi bagian dana digunakan untuk menghasilkan pendapatan pada periode tersebut (current income) dan sebagian lagi digunakan untuk menghasilkan pendapatan pada periode-periode berikutnya (Future Income)

TINGGALKAN KOMENTAR

Tuliskan komentar
Tuliskan nama anda